Chivu: “Saya ingin selalu bangkit dan pulih"

CHIVU: “SAYA INGIN SELALU BANGKIT DAN PULIH"

Dalam episode terbaru Careers, legenda Rumania ini mengungkapkan segala sesuatu tentang karier gemilangnya, lengkap dengan segala suka dan duka

MILAN - Kisah Cristian Chivu di dunia sepak bola sarat dengan penderitaan, kegirangan, prestasi membanggakan, ikatan erat dengan rekan-rekan satu tim, serta selebrasi saat meraih trofi. Satu tema yang menyertai tekad baja legenda Rumania ini, yang membawanya ke titik saat ini dengan penuh kebanggaan.

Dia adalah bintang dalam episode kedua Career di Inter TV, sebuah acara yang didedikasikan untuk para legenda Nerazzurri dan disiarkan di DAZN. Dalam tayangan terbaru ini, Chivu membahas kehidupannya debfab berbagai foto yang mencakup momen-momen terpentingnya dalam olahraga yang indah ini sampai sekarang.
 

"Ini gol ke gawang Atalanta. Momen yang istimewa karena ini adalah gol perdana saya untuk klub. Saya menunggu lama untuk mencetak gol ini; saya ingin sekali mencetak gol untuk Inter, dan gol tersebut tercipta tidak lama setelah saya pulih dari cedera kepala. Sangat menyenangkan; bagaimana rekan-rekan saya mendatangi dan merayakannya dengan saya, dan bagaimana fans bersorak-sorai di tribun. Ketika rekan-rekan saya datang dan mencium bekas luka saya serta mengatakan betapa saya layak mencetak gol itu, saya merasa sangat terharu."

“Bagaimana saya terkena cedera? Bekas luka itu berasal dari cedera parah, dan untungnya saya berhasil pulih. Saya sembuh dalam waktu beberapa bulan. Saya selalu belajar untuk menjalani hidup dengan tenang, tapi saya juga tahu bagaimana caranya bangkit. Yang terpenting adalah melanjutkan hidup dan melakukan yang terbaik untuk pulih dari cedera itu."

“Saya beruntung berada di klub yang begitu ramah, mulai dari presiden dan semua pihak yang bekerja di klub dan membantu saya. Saya beruntung bekerja dengan pelatih yang percaya pada saya sejak awal, yang memberi saya kepercayaan diri, yang percaya pada ucapan saya ketika dia memilih skuat Champions League untuk paruh kedua musim pada akhir bulan Januari 2010, dua minggu setelah operasi saya yang kedua. Saya meminta untuk dimasukkan, dan saya mengatakan bahwa dalam waktu dua bulan, saya akan kembali ke lapangan. Rekan-rekan satu tim saya juga sangat membantu pemulihan saya. Saya tidak akan pernah melupakan momen-momen ini; semuanya membentuk diri saya yang sekarang.” 

AWAL KARIER CHIVU

"Ketika saya pertama kali bergabung dengan Ajax, saya baru berusia 18 tahun. Saya berada di luar negeri untuk kali pertama dan sendirian; saya berada dalam situasi yang belum pernah saya alami sebelumnya, dan ini tidak mudah, tapi impian saya jadi kenyataan. Saya mendapatkan kesempatan untuk bermain di tim yang hebat, meningkatkan diri, dan mempelajari berbagai hal yang terbukti bermanfaat selama karier saya."

“Empat tahun di sana sangat membahagiakan; saya datang ketika masih muda, dan meninggalkan tempat itu sebagai orang yang lebih dewasa. Saya beruntung punya rekan-rekan satu tim yang sangat membantu dan pelatih yang percaya pada saya. Saya merasa punya kekuatan karena menyandang ban kapten; klub mungkin melihat sesuatu pada diri saya yang saya sendiri tidak sadar. Sebagai pemain, saya meningkat dalam banyak aspek; Ajax mengajarkan banyak hal, baik pada level manusia maupun profesional, dan sebagai pelatih saat ini, saya membawanya ke pekerjaan saya sehari-hari."

“Ketika saya bermain untuk AS Roma, saya bertemu dengan Francesco Totti; dia orang yang luar biasa, seorang pemimpin, dan seorang yang bisa menawarkan banyak hal di dalam dan di luar lapangan, baik untuk kota dan untuk tim. Kami tidak berdebat tentang siapa yang melakukan tendangan bebas; aturannya sudah jelas. Kalau tendangan bebas itu lebih baik dilakukan oleh pemain yang bagus dengan kaki kiri, itu bagian saya."

“Mengenai kepindahan saya dari Amsterdam ke Roma, ada perbedaan budaya, tapi kehidupan di Roma rasanya seperti kembali ke sesuatu yang lebih saya kenal; saya merasa tenang, saya punya banyak teman, dan menghabiskan empat tahun yang menyenangkan di klub itu, termasuk menjuarai satu Coppa Italia. Saya juga banyak berkembang di sana. Ke mana pun kita pergi sebagai pemain, pasti ada suka dan duka. Kita hanya harus tahu bagaimana mengatasinya dan berfokus pada tujuan.”

“Dejan ‘Deki’ Stankovic sudah seperti kakak bagi saya. Kami bersahabat dekat; kami pertama kali bertemu sebagai lawan, tapi kami selalu saling menghormati di lapangan. Kemudian kami akhirnya menjadi rekan satu tim di Inter, dan persahabatan yang luar biasa dimulai. Kami saling mendukung, dan keluarga kami sangat akrab, tapi secara keseluruhan, sebagai satu skuat, kami bergaul dengan baik satu sama lain.”

“Ini kostum spesial yang saya terima setelah saya gantung sepatu. Pemberian ini menunjukkan bahwa klub menegaskan kami merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar, dari sebuah kelompok yang nyata. Saya tidak terlalu memikirkan apa yang saya lakukan sebagai pemain, tapi saya ingat semuanya. Saya punya kenangan indah, tapi saya tidak pernah mengingat terlalu jauh ke belakang. Saya selalu berfokus pada saat ini dan masa depan yang dekat."

“Bicara tentang penyesalan, semua yang sudah saya lakukan dalam karier saya adalah untuk menghormati diri sendiri, semua klub yang saya bela, serta tim-tim yang sudah memberi kepercayaan kepada saya, yang memungkinkan saya mencatat sejarah seperti sekarang. Saya merasa beruntung, tapi saya tidak terlalu berpikir ke belakang karena saat ini saya punya tugas yang sangat berbeda dengan masa saya sebagai pemain. Saya tidak punya waktu untuk tenggelam dalam kenangan. Saya hanya berfokus pada pekerjaan saya sekarang, dan saya ingin melakukan yang terbaik untuk menyampaikan pesan kepada para pemain muda untuk mereka jadikan pegangan selama hidup dan karier mereka.”

“Kami menghabiskan banyak waktu bersama, dan meskipun kami sudah berpisah jalan, kami selalu berhubungan. Ketika kita berbagi banyak momen berkesan dengan orang lain, mereka akan menjadi bagian dari kehidupan kita; mencapai semua tujuan ini dan mencatat sejarah adalah hal-hal yang tidak akan pernah bisa dilupakan." 

“Dia mengatakan kepada saya apa yang akan terjadi pada bulan Mei, bahwa saya akan tampil di final cup. Saya dicadangkan di Siena karena dia ingin saya turun sejak awal di final Champions League, begitu kesepakatannya."

"Dia benar-benar membuat ramalan: “Kamu akan menerima kartu kuning karena menjatuhkan Arjen Robben, lalu pada babak kedua kamu akan menusuk ke tengah, dan saya akan menyuruh Javier Zanetti menjaga Robben karena kamu sudah mendapat kartu kuning. Kemudian kamu akan mengalami kram dan saya harus menarikmu keluar.” Ini seolah-olah dia menulis naskah yang meraih Oscar."

“Saya sangat bersemangat; saya sangat terlibat secara emosional dalam perkembangan para pemain saya. Kadang-kadang saya berharap saya bisa menyampaikan gagasan dengan lebih baik, tapi saya menyadari bahwa masalahnya tidak sesederhana itu, dan saya terus belajar. Para pemain juga menjadikan saya pelatih yang lebih baik, dan saya senang. Saya menghargai mereka yang bisa membuat saya seperti itu, tapi saya menyadari bahwa saya bisa dan harus terus jadi lebih baik.”


Versión Española  中文版  English Version  Versione Italiana 

Load More