Denzel Dumfries, dari Rotterdam ke Milan melalui Karibia

DENZEL DUMFRIES, DARI ROTTERDAM KE MILAN MELALUI KARIBIA

Pemain full-back baru kita jadi pemain Belanda ke-11 yang pernah memperkuat Inter

Denzel Dumfries yakin sekali dia pernah menulis di dinding kamarnya: “Suatu hari nanti saya akan bermain untuk tim nasional.” Denzel adalah seorang anak yang periang – seorang anak yang sepertinya tidak pernah berhenti bergerak dan selalu memainkan bola. Bisa dimaklumi, tidak ada yang begitu memperhatikan coretan di dinding kamar Denzel – lagipula, ini memang impian setiap anak. Tapi Denzel punya pemikiran lain. Seiring bertambahnya usia, setelah menempuh suka dan duka sekian langkah awal dalam permainan ini, dia menjaga impiannya tetap hidup.

Sampai usia 17 tahun, Denzel bermain untuk tim amatir Barendrecht di pinggir kota Rotterdam, kota tempat kelahirannya tahun 1996. Suatu hari, telepon berdering: “Denzel, kamu mau main untuk tim nasional?” Lawan bicaranya saat itu adalah Giovanni Franken, bukan pelatih kepala Belanda, dengan jersey oranye yang sudah lama menjadi impian Denzel, melainkan Aruba, sebuah pulau seluas 180 km² di Karibia. Ayah Denzel, Boris, lahir di Aruba, yang merupakan bagian dari Kerajaan Belanda. Denzel muda menerima ajakan tersebut – tapi dengan satu syarat. Dia hanya mau memperkuat Aruba dalam laga persahabatan, untuk memastikan peluangnya – suatu hari – membela Belanda tidak akan terpengaruh.

Tidak banyak pemain yang bisa mengatakan bahwa karier mereka melesat berkat pertandingan antara Aruba dan Guam. Tapi begitulah yang terjadi pada Denzel, dengan gol indah jarak jauhnya melawan negara pulau Mikronesia tersebut sepertinya melambungkan namanya di Belanda. 

Ibunya sama sekali tidak terkejut, Marleen, yang berasal dari Suriname: kemauan dan keteguhan Denzel sudah jelas sejak dia masih kecil, ketika dia memangkas liburannya supaya bisa kembali berlatih, mengendarai sepeda dan langsung menuju ke lapangan begitu ada kesempatan.

Denzel mendapatkan kesempatan penting pertamanya di Sparta Rotterdam, di mana dia melakoni debut profesional pada bulan Februari 2015. Sparta mendapatkan promosi ke Eredivisie pada musim berikutnya, sementara Denzel mendapat gelar “Pemain Paling Berbakat Tahun Ini” di kasta kedua Belanda. Daya jelajahnya yang tinggi di sayap kanan sudah menjadi ciri khasnya, ditambah dorongan dari keinginannya untuk senantiasa meningkat di setiap pertandingan. 

Dia kemudian pindah ke Heerenveen tahun 2017, lalu PSV menghubunginya setahun kemudian.

Denzel terus mengalami peningkatan di PSV, di mana dia menghabiskan waktu bekerja bersama sang legenda Edgar Davids dan seorang pelatih pribadi untuk memacu perkembangannya. 

Akhirnya, tahun 2018, panggilan yang ditunggu-tunggu dari tim nasional tiba.  Impian masa kecil Denzel terwujud tanggal 13 October 2018, saat dia melakoni debut untuk Belanda dalam sebuah laga Nations League melawan Jerman. Sejauh ini, dia sudah tampil 23 kali untuk Belanda, mencetak dua gol – keduanya tercipta di Euro 2020, melawan Ukraina (pemenang saat itu) dan Austria.

Denzel sudah pernah bermain di San Siro, sebagai lawan, di ajang Champions League 2018/19. Sekarang dia kembali sebagai pemain Inter, pemain Belanda ke-11 yang mengenakan seragam hitam biru sepanjang sejarah klub

Rekor empat gol, sembilan assist, dan 41 penampilan untuk PSV musim lalu adalah bukti kelayakannya untuk membela Inter, di mana dia akan bertemu dengan rekan satu timnya di Belanda Stefan de Vrij.

Impian untuk bermain membela tim nasional sudah terwujud, seperti diramalkan oleh graffiti di dinding kamar tidur Denzel. Impiannya untuk membela Inter akan segera dimulai.

#WelcomeDenzel


Versión Española  中文版  日本語版  English Version  Versione Italiana 

Load More